Seperti lagunya Naif yang judulnya Posesif ada lirik "Mengapa aku begini, jangan kau pertanyakan..." Ya... itulah yang ingin aku ucapkan pada seseorang yang aku mau, seseorang yang kuinginkan jadi pendamping hidupku kelak. Jika kelak "Dia" tahu jika aku mencintainya dan berharap dia yang menjadi calon suamiku, aku tidak mau dia bertanya mengapa aku hanya menginginkan dia.
Selama ini, aku rasa, aku sudah lelah berpura-pura, aku lelah berpura-pura tak melihatmu, aku lelah berpura-pura menjauhimu, aku lelah berpura-pura membencimu, aku lelah berpura-pura menghilang dari hidupmu, aku lelah berpura-pura,aku lelah... aku sudah lelah... namun satu yang perlu kau tahu "AKU TIDAK PERNAH BERPURA-PURA MENCINTAIMU" benar, aku tulus mencintaimu, aku tulus menyayangimu... tak pernah aku berpura-pura dengan hatiku, karena aku tidak dapat menipu hatiku.
Namun semuanya takkan mungkin jadi kenyataan, berpura-pura sudah menjadi kebiasaan, aku berpura-pura tersenyum dihadapan semua orang sesungguhnya dalam jiwaku ada seribu duri yang siap menancap, jiwaku ini sakit, ingin sekali aku lepas apa yang membuatku sakit namun tak bisa... demi menghilangkan rasa sakit ini aku rela membuang semua mimpi, karena mimpi inilah yang membuat jiwaku sakit.
Ahlan Wah Sahlan dunia maya (Rini Agustina Prēma kavitā)
tak perlu kau berusaha menghiburku untuk membuatku tersenyum... cukup kau dengarkan cerita ku... dak akui aku ada... andai dalam irama itu kehidupan mampu mebuatku berteriak "siapakah diriku??" aku terlahir tanpa kekasih, tanpa teman dan aku terlahir sendiri... jika hati mampu berteriak sekerasnya,,,ingin berkata,,, kau tak tau apa yang tengah ku rasakan saat ini,, dan kau takkan pernah tau....
Selasa, 31 Januari 2012
Rabu, 11 Januari 2012
Cerita ini merupakan pengalaman pribadi yang dituangkan dalam catatan kecil yang ku anggap sebagai "Luapan Emosi"
1. Teruslah bergerak
Tentang perjalanan ku meniti Ilmu dikampus, aku sempat bercerita kepada teman ku, kalau aku baru menyadari bahwa aku harus mengejar ketertinggalan ku. namun tak mudah seperti membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan yang benar ekstra, sepanjang pemikiran ku, pada pagi, siang, dan malam ku, aku berniat untuk benar-benar berlari kecang dengan kecepatan maksimum agar bisa mengejar teman-teman yang lain, yang hampir berada di titik Finish. Aku harus tetap berlari biar kaki ini sulit untuk melangkah, berdiam diri seperti ini tidak akan pernah bisa mencapai tujuan.
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.” (alm. Ust Rahmat Abdullah)
Barangsiapa berjalan di atas jalan yang benar dan tepat, ia pasti akan sampai… Man saara `ala al-darbi washala....
Jika kita sudah meniti jalan yang benar dan tepat, dan terus berjalan di atasnya, maka jangan terlalu cemaskan kapan kita sampai. Sebab suatu saat kita akan sampai juga. Namun, cemaskanlah perjalanan kita bila jalan yang kita titi salah dan menyimpang. Karena, sepanjang dan selama apa pun kita menempuhnya, kita takkan pernah sampai-sampai.
Terus lah bergerak, karena itu satu-satunya cara untuk berubah. Diam di tempat, hanya akan membuat kita tersingkir dari persaingan. Cepat atau lambat!
2. Pilih dicinta atau mencinta....???
Sempat berdiskusi dan curhat ala facebook dengan mbak tingkat Fisika 2007, tentang bagaimana mencintai dan dicintai. Sambil mengenang hari-hari yang telah berlalu dengan suka duka mencinta dan dicinta, yang lebih banyak dukanya dari pada suka.
Aku kembali teringat dengan teman-teman sekelas, anak Fisika 2008, yang iseng membuat pertanyaan di kertas selembar tentang “pilih mencinta atau dicinta?”. Ada sebagian yang ikut berkontribusi dalam pertanyaan itu termasuk saya sendiri.
Jawaban : saya memilih mencinta karena tidak akan menyakiti perasaan orang lain
Itulah jawaban singkat disertai dengan alasan yang singkat pula, namun berdasarkan pengalaman pribadi, ketika mencintai orang lain, karena hanya bisa memendam, yang sakit adalah diri sendiri karena orang yang ku cintai tidak pernah tahu perasaan ku, hingga dia menikah saat ini. Ketika dicintai, tak hanya bisa merasakan mencinta namun aku juga pernah merasakan dicinta. bedanya dia berani mengungkapkan perasaannya, namun dengan seribu alasan ku tolak. Namun aku selalu berusaha untuk menjaga perasaannya agar tak merasa disakiti, namun menjaga perasaan orang lain ternyata lebih sulit.
Bukan hanya mencinta yang sulit ternyata dicinta juga sulit... harus benar-benar bisa menjaga dengan baik perasaan orang yang mencintai, karena aku sudah mengalaminya sendiri saat mencintai seseorang. Sudah beberapa kali jatuh bangun dalam mencinta, namun tetap dalam kondisi yang sama. Jika kita tidak mau disakiti begitu pula dengan orang lain.
3. Sebuah kisah Kesedihanku dalam hari-hari yang terlewati
aku tak bisa menjawab berapa banyak hari ini aku bicara, berapa banyak hari ini aku telah tertawa, dan berapa banyak butir-butir air mata ku yang telah aku keluarkan hari ini, serta berapa kali air mata ini membasahi pipi ku.... itu semua sangat sering ku lakukan, namun aku tak pernah menghitung...
aku tak pandai dalam Matematika, aku tak bisa menghitung berapa lama waktu yang ku butuhkan untuk bisa meraih mimpi-mimpi ku...
Aku sedang berusaha membuang jauh pikiran itu dan pura-pura tidak merasakannya. Aku hanya sedang mengontrol emosiku, aku diam karena sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan dan aku katakan untuk ini, terlalu sakit.
kau tahu bagaimana keadaan padang pasir....? ya aku sama seperti padang pasir itu... namun aku bukanlah sebutir pasirnya, aku hanya hanya debu yang bersembunyi di bawah butir-butir pasir itu...
aku hidup di dalam hidup yang gersang, "padang pasir"
Dimana ketika aku haus..aku mencari sendiri sumber mata air...
Dimana ketika aku tersengat panasnya matahari...aku mencari sendiri tempat berteduh...
Dimana aku hanya melihat bayangan semu pepohonan yang rindang dan air yang menggenang...
Merenungkan semuanya ini aku pun hanya mampu berdoa dalam hati: Ya Allah, jika kupandang langit-Mu karya jari-Mu, bulan dan bintang yang Kau ciptakan, siapakah manusia sehingga Kau pelihara, siapakah aku sehingga Kau perhatikan, semoga terang-Mu yang begitu indah itu senantiasa mampu terpantul dalam terangku yang redup ini.
Ya Allah...
Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya....
Semua yang terjadi atas izin-Mu, kesulitan dan kemudahan datang dari-Mu...
Semoga setiap kesulitan yang Engkau berikan tidak membuatku jauh dari Cinta-Mu dan setiap kemudahan yang Engkau berikan padaku tidak membuatku lalai dan tidak bersyukur atas nikmat dan karunia-Mu.
Darimu Ibu, aku belajar ketabahan dan kesabaran. Darimu kekasihku, aku belajar kehilangan dan kesedihan... semoga Allah mencintai Ibuku yang cinta padaku, menyanyangi Ibuku yang sayang padaku...
Dan semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karena-Nya, kekasihku semoga kamu tidak lupa pada sang penciptamu karena aku...
kesulitan yang sedang menimpaku saat ini semoga menjadi pendewasaan bagiku nantinya, ibu... ternyata begini rasanya jauh darimu, ketabahanku dan kesabaranku dalam semua ujian ini tidak sebanding dengan ketabahan dan kesabaranmu... kekasihku, terima kasih atas cintamu yang telah pergi karena darimulah aku belajar kehilangan dan kesedihan..
1. Teruslah bergerak
Tentang perjalanan ku meniti Ilmu dikampus, aku sempat bercerita kepada teman ku, kalau aku baru menyadari bahwa aku harus mengejar ketertinggalan ku. namun tak mudah seperti membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan yang benar ekstra, sepanjang pemikiran ku, pada pagi, siang, dan malam ku, aku berniat untuk benar-benar berlari kecang dengan kecepatan maksimum agar bisa mengejar teman-teman yang lain, yang hampir berada di titik Finish. Aku harus tetap berlari biar kaki ini sulit untuk melangkah, berdiam diri seperti ini tidak akan pernah bisa mencapai tujuan.
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.” (alm. Ust Rahmat Abdullah)
Barangsiapa berjalan di atas jalan yang benar dan tepat, ia pasti akan sampai… Man saara `ala al-darbi washala....
Jika kita sudah meniti jalan yang benar dan tepat, dan terus berjalan di atasnya, maka jangan terlalu cemaskan kapan kita sampai. Sebab suatu saat kita akan sampai juga. Namun, cemaskanlah perjalanan kita bila jalan yang kita titi salah dan menyimpang. Karena, sepanjang dan selama apa pun kita menempuhnya, kita takkan pernah sampai-sampai.
Terus lah bergerak, karena itu satu-satunya cara untuk berubah. Diam di tempat, hanya akan membuat kita tersingkir dari persaingan. Cepat atau lambat!
2. Pilih dicinta atau mencinta....???
Sempat berdiskusi dan curhat ala facebook dengan mbak tingkat Fisika 2007, tentang bagaimana mencintai dan dicintai. Sambil mengenang hari-hari yang telah berlalu dengan suka duka mencinta dan dicinta, yang lebih banyak dukanya dari pada suka.
Aku kembali teringat dengan teman-teman sekelas, anak Fisika 2008, yang iseng membuat pertanyaan di kertas selembar tentang “pilih mencinta atau dicinta?”. Ada sebagian yang ikut berkontribusi dalam pertanyaan itu termasuk saya sendiri.
Jawaban : saya memilih mencinta karena tidak akan menyakiti perasaan orang lain
Itulah jawaban singkat disertai dengan alasan yang singkat pula, namun berdasarkan pengalaman pribadi, ketika mencintai orang lain, karena hanya bisa memendam, yang sakit adalah diri sendiri karena orang yang ku cintai tidak pernah tahu perasaan ku, hingga dia menikah saat ini. Ketika dicintai, tak hanya bisa merasakan mencinta namun aku juga pernah merasakan dicinta. bedanya dia berani mengungkapkan perasaannya, namun dengan seribu alasan ku tolak. Namun aku selalu berusaha untuk menjaga perasaannya agar tak merasa disakiti, namun menjaga perasaan orang lain ternyata lebih sulit.
Bukan hanya mencinta yang sulit ternyata dicinta juga sulit... harus benar-benar bisa menjaga dengan baik perasaan orang yang mencintai, karena aku sudah mengalaminya sendiri saat mencintai seseorang. Sudah beberapa kali jatuh bangun dalam mencinta, namun tetap dalam kondisi yang sama. Jika kita tidak mau disakiti begitu pula dengan orang lain.
3. Sebuah kisah Kesedihanku dalam hari-hari yang terlewati
aku tak bisa menjawab berapa banyak hari ini aku bicara, berapa banyak hari ini aku telah tertawa, dan berapa banyak butir-butir air mata ku yang telah aku keluarkan hari ini, serta berapa kali air mata ini membasahi pipi ku.... itu semua sangat sering ku lakukan, namun aku tak pernah menghitung...
aku tak pandai dalam Matematika, aku tak bisa menghitung berapa lama waktu yang ku butuhkan untuk bisa meraih mimpi-mimpi ku...
Aku sedang berusaha membuang jauh pikiran itu dan pura-pura tidak merasakannya. Aku hanya sedang mengontrol emosiku, aku diam karena sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan dan aku katakan untuk ini, terlalu sakit.
kau tahu bagaimana keadaan padang pasir....? ya aku sama seperti padang pasir itu... namun aku bukanlah sebutir pasirnya, aku hanya hanya debu yang bersembunyi di bawah butir-butir pasir itu...
aku hidup di dalam hidup yang gersang, "padang pasir"
Dimana ketika aku haus..aku mencari sendiri sumber mata air...
Dimana ketika aku tersengat panasnya matahari...aku mencari sendiri tempat berteduh...
Dimana aku hanya melihat bayangan semu pepohonan yang rindang dan air yang menggenang...
Merenungkan semuanya ini aku pun hanya mampu berdoa dalam hati: Ya Allah, jika kupandang langit-Mu karya jari-Mu, bulan dan bintang yang Kau ciptakan, siapakah manusia sehingga Kau pelihara, siapakah aku sehingga Kau perhatikan, semoga terang-Mu yang begitu indah itu senantiasa mampu terpantul dalam terangku yang redup ini.
Ya Allah...
Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya....
Semua yang terjadi atas izin-Mu, kesulitan dan kemudahan datang dari-Mu...
Semoga setiap kesulitan yang Engkau berikan tidak membuatku jauh dari Cinta-Mu dan setiap kemudahan yang Engkau berikan padaku tidak membuatku lalai dan tidak bersyukur atas nikmat dan karunia-Mu.
Darimu Ibu, aku belajar ketabahan dan kesabaran. Darimu kekasihku, aku belajar kehilangan dan kesedihan... semoga Allah mencintai Ibuku yang cinta padaku, menyanyangi Ibuku yang sayang padaku...
Dan semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karena-Nya, kekasihku semoga kamu tidak lupa pada sang penciptamu karena aku...
kesulitan yang sedang menimpaku saat ini semoga menjadi pendewasaan bagiku nantinya, ibu... ternyata begini rasanya jauh darimu, ketabahanku dan kesabaranku dalam semua ujian ini tidak sebanding dengan ketabahan dan kesabaranmu... kekasihku, terima kasih atas cintamu yang telah pergi karena darimulah aku belajar kehilangan dan kesedihan..
Ini ceritaku tentang hidupku
"Teman"
Sungguh aku bersusah payah menjaga persahabat ini, sejak dulu ketika Ibu dan keluargaku menceritakan tentang keburukkanmu aku selalu menutup telingaku, namun hari ini mata dan telingaku terbuka lebar-lebar, semuanya tentangmu itu benar. Semuanya berawal ketika aku lulus diperguruan tinggi negeri sedangkan dirimu tidak lulus, terlihat sekali sikapmu yang tidak mengucapkan selamat atas kelulusanku, hingga hari ulang tahunku pun kau lupakan. Sungguh malu aku mengakui jika dirimu itu teman kecilku dulu. Dahulu aku bangga sekali mempunyai teman sejak kecil hingga sekarang terus bersama, tidak seperti yang lainnya yang tidak pernah bertemu teman kecil mereka.
Semua yang baik-baik tentangmu selalu aku ceritakan pada teman yang baru kujumpai, mereka terlihat iri padaku karena memiliki teman sepertimu. Ooooo... Tuhan apakah dia yang berubah ataukah selama ini aku yang selalu menutup mata. Seribu kemungkinan ada dalam otakku saat menyaksikan kebusukkanmu. Kuharap engkau menyadari sikapmu ini, ketika semua orang bilang engkau adalah orang yang angkuh aku tetap menundukkan mataku, ketika semua orang bilang engkau orang yang keras kepala aku tetap tak peduli, mengapa kau harus iri padaku sedangkan engkau memiliki yang lebih dariku. Tak ada yang istimewah dari diriku ini kawan, lihatlah yang ada padamu, kau memiliki kehidupan yang berkecukupan, memiliki banyak teman, cantik dan banyak orang menyukaimu, tidak seperti aku yang serba kekurangan.
"Someone"
Sudah dua tahun berlalu, namun kau masih tetap ada dan belum berlalu dari pikiranku, kau yang tak pernah tau isi hatiku, jika aku ini menyukaimu. Yaa.. Aku menyukaimu, entah sampai kapan ini akan bertahan, semuanya berawal dari Kuliah semester pendek awal semester tiga, dikala itu kau terlihat sangat lucu, manis dan bersahabat, dan seringnya dirimu menyapaku, nasihat-nasihatmu begitu bermakna untukku. Entah engkau anggap apa aku dihatimu...? Sudah berulang kali aku mencari satu saja alasan untuk menjauh dan menbencimu, namun selalu saja hadir seribu alasan untukku dekat, menrindui dan mencintaimu.
Orang ini selalu mendukungku, terkadang dia seperti kakak bagiku, terkadang seperti teman, terkadang seperti orang yang akan menjadi teman hidupku "calon suami" aaakkkhhhh... Pikiranku sudah jauh sekali, tapi ini benar-benar ada salah satunya seperti ini "Cepat lulus yo dek, majulah seminar, usul jugo biar nanti kito biso samo-samo... hehehe" ada lagi yang lainnya "Lagi dimano...? dengan siapo...?" dan "Jangan tidur malam nian gek besok ngantuk pas kuliah, kuliah apo besok..?" semua orang aku yakin pasti harapannya sudah melambung tinggi selangit apalagi jika kita memiliki rasa sama dia.
Sungguh aku bersusah payah menjaga persahabat ini, sejak dulu ketika Ibu dan keluargaku menceritakan tentang keburukkanmu aku selalu menutup telingaku, namun hari ini mata dan telingaku terbuka lebar-lebar, semuanya tentangmu itu benar. Semuanya berawal ketika aku lulus diperguruan tinggi negeri sedangkan dirimu tidak lulus, terlihat sekali sikapmu yang tidak mengucapkan selamat atas kelulusanku, hingga hari ulang tahunku pun kau lupakan. Sungguh malu aku mengakui jika dirimu itu teman kecilku dulu. Dahulu aku bangga sekali mempunyai teman sejak kecil hingga sekarang terus bersama, tidak seperti yang lainnya yang tidak pernah bertemu teman kecil mereka.
Semua yang baik-baik tentangmu selalu aku ceritakan pada teman yang baru kujumpai, mereka terlihat iri padaku karena memiliki teman sepertimu. Ooooo... Tuhan apakah dia yang berubah ataukah selama ini aku yang selalu menutup mata. Seribu kemungkinan ada dalam otakku saat menyaksikan kebusukkanmu. Kuharap engkau menyadari sikapmu ini, ketika semua orang bilang engkau adalah orang yang angkuh aku tetap menundukkan mataku, ketika semua orang bilang engkau orang yang keras kepala aku tetap tak peduli, mengapa kau harus iri padaku sedangkan engkau memiliki yang lebih dariku. Tak ada yang istimewah dari diriku ini kawan, lihatlah yang ada padamu, kau memiliki kehidupan yang berkecukupan, memiliki banyak teman, cantik dan banyak orang menyukaimu, tidak seperti aku yang serba kekurangan.
"Someone"
Sudah dua tahun berlalu, namun kau masih tetap ada dan belum berlalu dari pikiranku, kau yang tak pernah tau isi hatiku, jika aku ini menyukaimu. Yaa.. Aku menyukaimu, entah sampai kapan ini akan bertahan, semuanya berawal dari Kuliah semester pendek awal semester tiga, dikala itu kau terlihat sangat lucu, manis dan bersahabat, dan seringnya dirimu menyapaku, nasihat-nasihatmu begitu bermakna untukku. Entah engkau anggap apa aku dihatimu...? Sudah berulang kali aku mencari satu saja alasan untuk menjauh dan menbencimu, namun selalu saja hadir seribu alasan untukku dekat, menrindui dan mencintaimu.
Orang ini selalu mendukungku, terkadang dia seperti kakak bagiku, terkadang seperti teman, terkadang seperti orang yang akan menjadi teman hidupku "calon suami" aaakkkhhhh... Pikiranku sudah jauh sekali, tapi ini benar-benar ada salah satunya seperti ini "Cepat lulus yo dek, majulah seminar, usul jugo biar nanti kito biso samo-samo... hehehe" ada lagi yang lainnya "Lagi dimano...? dengan siapo...?" dan "Jangan tidur malam nian gek besok ngantuk pas kuliah, kuliah apo besok..?" semua orang aku yakin pasti harapannya sudah melambung tinggi selangit apalagi jika kita memiliki rasa sama dia.
Rabu, 29 Juni 2011
Ibu tahu semuanya
Ibu...
Aku tak pernah bilang seberapa sayangnya aku padamu...
Aku tak pernah bilang seberapa rindunya aku padamu...
Tapi Ibu tahu semuanya kan...?
Ibu pasti tahu semuanya...
Aku takpernah mengatakan betapa takutnya aku dengan kegelapan ini...
Namun Ibu tahu tentang ketakutan ku ini...
Aku tak pernah mengatakan betapa kesepiannya aku hidup sendiri...
Tapi ibu tahu tentang kesunyian ini...
Aku yakin Ibu tahu semua yang ku rasakan...
Ibu...
Aku takkan pernah mengatakan hal yang membuat mu gelisah...
Jangan ibu buang aku ketempat yang jauh...
Yang membuat mu sulit untuk mengingat ku...
Tanyalah kabar ku, Bu...
Aku takkan pernah memberikan kabar ku tanpa ibu bertanya,
Karena aku hanya butuh kabar Ibu saja...
Ibu...
Ketika suatu saat nanti dunia ini melemparku hingga aku terjatuh...
Tangkap aku dengan tangan mu, Bu...
Jika nanti dunia membuat ku menangis, hapuslah air mata ku...
Ibu...
Jangan tinggalkan aku dalam keramaian ini...
Yang membuat ku kehilangan jalan pulang ku...
Mataku mencari mu, berharap ibu datang membawa ku pulang...
Aku tidak akan pernah memperlihatkan kalau hatiku sedang bersedih...
Aku tidak akan pernah bilang tentang sesuatu yang ku rasakan...
Tapi Ibu tahu semuanya kan...?
Aku tidak pernah bilang aku tak bisa hidup tanpa kasih sayang ibu...
Tapi Ibu tahu semuanya kan...?
Ibu pasti tahu semuanya...
Aku tak pernah bilang seberapa sayangnya aku padamu...
Aku tak pernah bilang seberapa rindunya aku padamu...
Tapi Ibu tahu semuanya kan...?
Ibu pasti tahu semuanya...
Aku takpernah mengatakan betapa takutnya aku dengan kegelapan ini...
Namun Ibu tahu tentang ketakutan ku ini...
Aku tak pernah mengatakan betapa kesepiannya aku hidup sendiri...
Tapi ibu tahu tentang kesunyian ini...
Aku yakin Ibu tahu semua yang ku rasakan...
Ibu...
Aku takkan pernah mengatakan hal yang membuat mu gelisah...
Jangan ibu buang aku ketempat yang jauh...
Yang membuat mu sulit untuk mengingat ku...
Tanyalah kabar ku, Bu...
Aku takkan pernah memberikan kabar ku tanpa ibu bertanya,
Karena aku hanya butuh kabar Ibu saja...
Ibu...
Ketika suatu saat nanti dunia ini melemparku hingga aku terjatuh...
Tangkap aku dengan tangan mu, Bu...
Jika nanti dunia membuat ku menangis, hapuslah air mata ku...
Ibu...
Jangan tinggalkan aku dalam keramaian ini...
Yang membuat ku kehilangan jalan pulang ku...
Mataku mencari mu, berharap ibu datang membawa ku pulang...
Aku tidak akan pernah memperlihatkan kalau hatiku sedang bersedih...
Aku tidak akan pernah bilang tentang sesuatu yang ku rasakan...
Tapi Ibu tahu semuanya kan...?
Aku tidak pernah bilang aku tak bisa hidup tanpa kasih sayang ibu...
Tapi Ibu tahu semuanya kan...?
Ibu pasti tahu semuanya...
"jangan Takut"
ketakutan ku ini entah berawal dari mana. namun inilah yang sedang aku rasakan saat ini, sejak beberapa hari terakhir ini ketakutan ku ini kian menyiksa...
pada hari itu... tanggal itu... jam itu... aku diminta untuk menjadi sosok manusia yang sempurna, berwibawa, bertanggung jawab karena tuntutan sebuah profesi yang harus menuntutku menjadi yang terbaik, aku sudah berusaha bersikap demikian atau menurut kategori ku "yang terbaik" .inilah yang membuat ku semakin menutup mata akan kesalahan, bersikap seolah paling baik, paling sempurna, berwibawa dan sebagainya yang baik-baik.
namun siapa sangka ada ribuan orang bermuka palsu didepan ku... mereka bersikap baik kepada ku, memuji ku yang salah ini, yang begitu buruk didalam hati setiap orang yang ada didekat ku.
ribuan detik, ribuan jam serta ribuan hari ini berlalu dengan kepalsuan... pada suatu hari ada seseorang yang baru aku kenal dengan beraninya dia berbicara kepada ku.
"maap sebelumnya, jika saya boleh menyarankan kenapa harus begitu...??? kenapa tidak begini...??"
dengan lantang dia mengucap kata demi kata yang menjadi kalimat seakan-akan pedang yang menyayat-nyayat perasaanku, pikir ku dalam hati, kenapa dia seolah bersikap paling benar...? dia pikir dia siapa...?
kata-kata itu seakan menjadi darah yang terus mengalir dalam otakku, namun pada suatu malam, aku berbaring dalam kegelapan, begitu gelap sehingga aku tak dapat melihat diriku sendiri... dari situlah aku sadar jika orang yang baru ku kenal saja demikian bagaimana dengan orang yang ada didekat ku...? karena yang bisa menilai adalah orang lain.
aku mengambil inisiatif meminta teman-teman terdekatku memberikan kritikkan agar aku bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.
"teman-teman apa pendapat kalian tentang diriku ini...?"
setelah terlontar kata-kata itu, aku merasa sangat takut akan beberapa hal, intinya adalah aku takut dikritik...
Seorang mengatakan bahwa dia baru bisa marah kepada orang lain jika dia sudah kenal benar dengan orang itu. Kalau belum kenal dia tidak akan sekali- kali marah apalagi mengkritik. ” Karena saya care maka dari itu saya mengkritik.” Katanya sambil tersenyum.
Tapi terkadang memang kritikan tidak seenak menerima pujian. Kritikan terkadang lebih menekan di hati. Kritikan itu menyebalkan. Kritikan itu membuat gerun di hati. Tapi seharusnya kita sadar bahwa jika kita dikritik maka sebenarnya orang tersebut peduli dengan kita.
Lalu buat apa takut dikritik?
Apakah diri ini merasa sempurna sehingga takut dikritik?
Apakah diri ini merasa sudah baik sehingga anti teguran?
Atau apakah diri ini merasa tidak pernah berbuat salah lalu tak mau menerima bisik-bisik yang sedikit sakit?
Tenanglah, kritikan ini ingin membangunmu. Kritikan ini hanya teguran kecil ALLAH melalui tangan saudara- saudaramu. Kritikan ini tanda sayang saudaramu kepadamu seorang. Lalu buat apa takut dikritik?
Sungguh ALLAH menegur Rasulullah langsung dengan firman-Nya. Karena ALLAH sayang atas hamba-Nya. Karena ALLAH peduli akan hamba-Nya. Karena ALLAH tidak ingin hamba-Nya tersesat lebih dalam.
Jika engkau sayang maka kritikan adalah nasihat kecil,
Jika engkau cinta maka kritikan adalah motivasi pembuat semangat,
JIka engkau peduli maka kritikan adalah tausiyah pembangun jiwa,
JIka engkau perhatian maka kritikan adalah sumber pemahaman dan pengertian.
Lalu buat apa takut dikritik?
pada hari itu... tanggal itu... jam itu... aku diminta untuk menjadi sosok manusia yang sempurna, berwibawa, bertanggung jawab karena tuntutan sebuah profesi yang harus menuntutku menjadi yang terbaik, aku sudah berusaha bersikap demikian atau menurut kategori ku "yang terbaik" .inilah yang membuat ku semakin menutup mata akan kesalahan, bersikap seolah paling baik, paling sempurna, berwibawa dan sebagainya yang baik-baik.
namun siapa sangka ada ribuan orang bermuka palsu didepan ku... mereka bersikap baik kepada ku, memuji ku yang salah ini, yang begitu buruk didalam hati setiap orang yang ada didekat ku.
ribuan detik, ribuan jam serta ribuan hari ini berlalu dengan kepalsuan... pada suatu hari ada seseorang yang baru aku kenal dengan beraninya dia berbicara kepada ku.
"maap sebelumnya, jika saya boleh menyarankan kenapa harus begitu...??? kenapa tidak begini...??"
dengan lantang dia mengucap kata demi kata yang menjadi kalimat seakan-akan pedang yang menyayat-nyayat perasaanku, pikir ku dalam hati, kenapa dia seolah bersikap paling benar...? dia pikir dia siapa...?
kata-kata itu seakan menjadi darah yang terus mengalir dalam otakku, namun pada suatu malam, aku berbaring dalam kegelapan, begitu gelap sehingga aku tak dapat melihat diriku sendiri... dari situlah aku sadar jika orang yang baru ku kenal saja demikian bagaimana dengan orang yang ada didekat ku...? karena yang bisa menilai adalah orang lain.
aku mengambil inisiatif meminta teman-teman terdekatku memberikan kritikkan agar aku bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.
"teman-teman apa pendapat kalian tentang diriku ini...?"
setelah terlontar kata-kata itu, aku merasa sangat takut akan beberapa hal, intinya adalah aku takut dikritik...
Seorang mengatakan bahwa dia baru bisa marah kepada orang lain jika dia sudah kenal benar dengan orang itu. Kalau belum kenal dia tidak akan sekali- kali marah apalagi mengkritik. ” Karena saya care maka dari itu saya mengkritik.” Katanya sambil tersenyum.
Tapi terkadang memang kritikan tidak seenak menerima pujian. Kritikan terkadang lebih menekan di hati. Kritikan itu menyebalkan. Kritikan itu membuat gerun di hati. Tapi seharusnya kita sadar bahwa jika kita dikritik maka sebenarnya orang tersebut peduli dengan kita.
Lalu buat apa takut dikritik?
Apakah diri ini merasa sempurna sehingga takut dikritik?
Apakah diri ini merasa sudah baik sehingga anti teguran?
Atau apakah diri ini merasa tidak pernah berbuat salah lalu tak mau menerima bisik-bisik yang sedikit sakit?
Tenanglah, kritikan ini ingin membangunmu. Kritikan ini hanya teguran kecil ALLAH melalui tangan saudara- saudaramu. Kritikan ini tanda sayang saudaramu kepadamu seorang. Lalu buat apa takut dikritik?
Sungguh ALLAH menegur Rasulullah langsung dengan firman-Nya. Karena ALLAH sayang atas hamba-Nya. Karena ALLAH peduli akan hamba-Nya. Karena ALLAH tidak ingin hamba-Nya tersesat lebih dalam.
Jika engkau sayang maka kritikan adalah nasihat kecil,
Jika engkau cinta maka kritikan adalah motivasi pembuat semangat,
JIka engkau peduli maka kritikan adalah tausiyah pembangun jiwa,
JIka engkau perhatian maka kritikan adalah sumber pemahaman dan pengertian.
Lalu buat apa takut dikritik?
Selasa, 28 Juni 2011
"Dia" yang kehilangan
Rasa ikhlas kurasakan saat diriku sadar bahwa apapun yang kumiliki hanyalah titipan, saat kehilangan ia hanya dikembalikan...
Kehilangan...
Kalimat itu baru saja di rasakan oleh salah satu sahabat terbaikku, bagiku dia adalah orang yang paling tegar sedunia, Orang yang tegar sepertimu mempunyai kemampuan tinggi untuk menerima kenyataan. Mungkin karena aku yang terlalu egois, yang tak mau orang yang ku sayangi pergi meninggalkan ku. sungguh Dia orang yang paling iklas, Dia sahabat yang benar-benar menghargai sahabatnya. Dia adalah orang pilihan, Allah hanya memberi cobaan pada orang yang bisa melaluinya dan kuat dalam melewatinya, Hari ini 28 Juni 2011 dia kehilangan Papanya. Kuatkanlah Dia ya Allah... di hadapan kami senyumnya masih terlihat manis menyambut kedatangan kami, namun aku tahu dibalik senyum itu telah terukir kehilangan yang mendalam di wajahnya. Kau benar-benar orang yang kuat sahabatku, Orang yang kuat adalah orang yang sanggup mengendalikan emosinya, kau sanggup memperlihatkan senyummu pada kami, dan menahan air mata mu...
Bersabarlah kawan, hingga ketidaksabaran itu lelah mengikuti mu...
Ya Allah tak banyak yang ku pinta, aku tahu semuanya akan kembali pada-Mu, namun aku ingin jika sudah saatnya orang tua ku Engkau panggil berilah kekuatan dan keikhlasan padaku, namun satu harapanku ketika saatnya mereka pergi, aku sudah memiliki pengganti mereka yang akan membimbing ku setelah mereka tiada, yaitu “Suamiku”
Apapun yang telah menjadi kehendak-Nya hendaklah kita terima, karna Dia tahu yang terbaik untuk kita... yang hilang biarlah hilang Insya Allah akan digantikan dengan Seribu kenikmatan yang lain “patah tumbuh hilang berganti”.
Kehilangan...
Kalimat itu baru saja di rasakan oleh salah satu sahabat terbaikku, bagiku dia adalah orang yang paling tegar sedunia, Orang yang tegar sepertimu mempunyai kemampuan tinggi untuk menerima kenyataan. Mungkin karena aku yang terlalu egois, yang tak mau orang yang ku sayangi pergi meninggalkan ku. sungguh Dia orang yang paling iklas, Dia sahabat yang benar-benar menghargai sahabatnya. Dia adalah orang pilihan, Allah hanya memberi cobaan pada orang yang bisa melaluinya dan kuat dalam melewatinya, Hari ini 28 Juni 2011 dia kehilangan Papanya. Kuatkanlah Dia ya Allah... di hadapan kami senyumnya masih terlihat manis menyambut kedatangan kami, namun aku tahu dibalik senyum itu telah terukir kehilangan yang mendalam di wajahnya. Kau benar-benar orang yang kuat sahabatku, Orang yang kuat adalah orang yang sanggup mengendalikan emosinya, kau sanggup memperlihatkan senyummu pada kami, dan menahan air mata mu...
Bersabarlah kawan, hingga ketidaksabaran itu lelah mengikuti mu...
Ya Allah tak banyak yang ku pinta, aku tahu semuanya akan kembali pada-Mu, namun aku ingin jika sudah saatnya orang tua ku Engkau panggil berilah kekuatan dan keikhlasan padaku, namun satu harapanku ketika saatnya mereka pergi, aku sudah memiliki pengganti mereka yang akan membimbing ku setelah mereka tiada, yaitu “Suamiku”
Apapun yang telah menjadi kehendak-Nya hendaklah kita terima, karna Dia tahu yang terbaik untuk kita... yang hilang biarlah hilang Insya Allah akan digantikan dengan Seribu kenikmatan yang lain “patah tumbuh hilang berganti”.
Rabu, 01 Juni 2011
Cinta di Fisika
Sejauh apa pun jarak antara kita, tak akan bisa membuatku jauh dari mu... biarlah aku melintasi relativitas waktu ini untuk bisa bertemu dengan mu... setiap gerak yang ku lakukan tak pernah ada perpindahan. Mungkin ini adalah dinamika kehidupan yang akan selalu ada. Sebesar apapun usaha yang ku lakukan untuk membenci mu, namun aku tak pernah bisa. Ketika aku sedang mencari satu alasan untuk membenci mu, selalu datang seribu alasan untukku mencintai mu.
Bagiku kau pelangi yang indah...
Kau bagaikan cahaya dalam hidupku yang selalu menerangi ku, kau seperti magnet yang selalu membuat ku tertarik, semua tentang mu, senyum mu, suara mu yang selalu memberikan getaran dalam jiwa ku. Aku terbawa arus cinta ini dan terombang-ambing gelombang penantian. Namun Kau hanyalah fatamorgana untuk ku, kini aku hanya bisa menunggu waktu itu tiba...
Cinta adalah komposisi rasa yang ada dalam hati, yang meradiasikan gelombang cahaya yang berbeda pada tiap insan yang merasakannya. Spektrum cinta beraneka warna dan memiliki panjang gelombang yang tidak sama, serta berasal dari dimensi ruang dan waktu yang berbeda.
Tidak ada aturan dalam cinta seperti aturan angka penting...
aku tak pandai dalam Fisika, aku tak bisa menghitung berapa lama waktu yang ku butuhkan untuk bisa meraih mimpi-mimpi ku...
Langganan:
Komentar (Atom)


