Cerita ini merupakan pengalaman pribadi yang dituangkan dalam catatan kecil yang ku anggap sebagai "Luapan Emosi"
1. Teruslah bergerak
Tentang perjalanan ku meniti Ilmu dikampus, aku sempat bercerita kepada teman ku, kalau aku baru menyadari bahwa aku harus mengejar ketertinggalan ku. namun tak mudah seperti membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan yang benar ekstra, sepanjang pemikiran ku, pada pagi, siang, dan malam ku, aku berniat untuk benar-benar berlari kecang dengan kecepatan maksimum agar bisa mengejar teman-teman yang lain, yang hampir berada di titik Finish. Aku harus tetap berlari biar kaki ini sulit untuk melangkah, berdiam diri seperti ini tidak akan pernah bisa mencapai tujuan.
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.” (alm. Ust Rahmat Abdullah)
Barangsiapa berjalan di atas jalan yang benar dan tepat, ia pasti akan sampai… Man saara `ala al-darbi washala....
Jika kita sudah meniti jalan yang benar dan tepat, dan terus berjalan di atasnya, maka jangan terlalu cemaskan kapan kita sampai. Sebab suatu saat kita akan sampai juga. Namun, cemaskanlah perjalanan kita bila jalan yang kita titi salah dan menyimpang. Karena, sepanjang dan selama apa pun kita menempuhnya, kita takkan pernah sampai-sampai.
Terus lah bergerak, karena itu satu-satunya cara untuk berubah. Diam di tempat, hanya akan membuat kita tersingkir dari persaingan. Cepat atau lambat!
2. Pilih dicinta atau mencinta....???
Sempat berdiskusi dan curhat ala facebook dengan mbak tingkat Fisika 2007, tentang bagaimana mencintai dan dicintai. Sambil mengenang hari-hari yang telah berlalu dengan suka duka mencinta dan dicinta, yang lebih banyak dukanya dari pada suka.
Aku kembali teringat dengan teman-teman sekelas, anak Fisika 2008, yang iseng membuat pertanyaan di kertas selembar tentang “pilih mencinta atau dicinta?”. Ada sebagian yang ikut berkontribusi dalam pertanyaan itu termasuk saya sendiri.
Jawaban : saya memilih mencinta karena tidak akan menyakiti perasaan orang lain
Itulah jawaban singkat disertai dengan alasan yang singkat pula, namun berdasarkan pengalaman pribadi, ketika mencintai orang lain, karena hanya bisa memendam, yang sakit adalah diri sendiri karena orang yang ku cintai tidak pernah tahu perasaan ku, hingga dia menikah saat ini. Ketika dicintai, tak hanya bisa merasakan mencinta namun aku juga pernah merasakan dicinta. bedanya dia berani mengungkapkan perasaannya, namun dengan seribu alasan ku tolak. Namun aku selalu berusaha untuk menjaga perasaannya agar tak merasa disakiti, namun menjaga perasaan orang lain ternyata lebih sulit.
Bukan hanya mencinta yang sulit ternyata dicinta juga sulit... harus benar-benar bisa menjaga dengan baik perasaan orang yang mencintai, karena aku sudah mengalaminya sendiri saat mencintai seseorang. Sudah beberapa kali jatuh bangun dalam mencinta, namun tetap dalam kondisi yang sama. Jika kita tidak mau disakiti begitu pula dengan orang lain.
3. Sebuah kisah Kesedihanku dalam hari-hari yang terlewati
aku tak bisa menjawab berapa banyak hari ini aku bicara, berapa banyak hari ini aku telah tertawa, dan berapa banyak butir-butir air mata ku yang telah aku keluarkan hari ini, serta berapa kali air mata ini membasahi pipi ku.... itu semua sangat sering ku lakukan, namun aku tak pernah menghitung...
aku tak pandai dalam Matematika, aku tak bisa menghitung berapa lama waktu yang ku butuhkan untuk bisa meraih mimpi-mimpi ku...
Aku sedang berusaha membuang jauh pikiran itu dan pura-pura tidak merasakannya. Aku hanya sedang mengontrol emosiku, aku diam karena sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan dan aku katakan untuk ini, terlalu sakit.
kau tahu bagaimana keadaan padang pasir....? ya aku sama seperti padang pasir itu... namun aku bukanlah sebutir pasirnya, aku hanya hanya debu yang bersembunyi di bawah butir-butir pasir itu...
aku hidup di dalam hidup yang gersang, "padang pasir"
Dimana ketika aku haus..aku mencari sendiri sumber mata air...
Dimana ketika aku tersengat panasnya matahari...aku mencari sendiri tempat berteduh...
Dimana aku hanya melihat bayangan semu pepohonan yang rindang dan air yang menggenang...
Merenungkan semuanya ini aku pun hanya mampu berdoa dalam hati: Ya Allah, jika kupandang langit-Mu karya jari-Mu, bulan dan bintang yang Kau ciptakan, siapakah manusia sehingga Kau pelihara, siapakah aku sehingga Kau perhatikan, semoga terang-Mu yang begitu indah itu senantiasa mampu terpantul dalam terangku yang redup ini.
Ya Allah...
Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya....
Semua yang terjadi atas izin-Mu, kesulitan dan kemudahan datang dari-Mu...
Semoga setiap kesulitan yang Engkau berikan tidak membuatku jauh dari Cinta-Mu dan setiap kemudahan yang Engkau berikan padaku tidak membuatku lalai dan tidak bersyukur atas nikmat dan karunia-Mu.
Darimu Ibu, aku belajar ketabahan dan kesabaran. Darimu kekasihku, aku belajar kehilangan dan kesedihan... semoga Allah mencintai Ibuku yang cinta padaku, menyanyangi Ibuku yang sayang padaku...
Dan semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karena-Nya, kekasihku semoga kamu tidak lupa pada sang penciptamu karena aku...
kesulitan yang sedang menimpaku saat ini semoga menjadi pendewasaan bagiku nantinya, ibu... ternyata begini rasanya jauh darimu, ketabahanku dan kesabaranku dalam semua ujian ini tidak sebanding dengan ketabahan dan kesabaranmu... kekasihku, terima kasih atas cintamu yang telah pergi karena darimulah aku belajar kehilangan dan kesedihan..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan tinggalkan komentar